Kepala SMAN 3 Karimun, Dra. Mery Sandra, MM (kanan), mendampingi Dr. Rica Irma Dhiyanti selaku narasumber dalam Pelatihan Keterampilan Etos Kerja dan Pelayanan Prima di Ruang Pertemuan SMAN 3 Karimun, Senin (12/10/2026)
KARIMUN, KEPRI24JAM.COM – SMA Negeri 3 Karimun, Provinsi Kepulauan Riau, membekali guru dan tenaga tata usaha dengan keterampilan etos kerja dan pelayanan prima melalui pelatihan pada 12–13 Oktober 2026.
Langkah ini menjadi upaya sekolah untuk membangun budaya kerja yang lebih profesional dan meningkatkan kualitas pelayanan. Kegiatan ini menyasar tenaga tata usaha (TU) untuk meningkatkan mutu layanan administrasi sekolah.
Kepala SMA Negeri 3 Karimun, Dra. Mery Sandra, M.M., sangat antusias dalam pelaksanaan pelatihan tersebut. Ia berharap kegiatan tersebut bisa mendorong peningkatan profesionalisme guru dan tenaga TU.
“Kami antusias dengan pelatihan ini. Guru dan tenaga TU berperan penting mendukung kemajuan sekolah. Kompetensi, etos kerja, dan kualitas pelayanan harus terus ditingkatkan,” ujar Mery, Selasa (13/10/2026).
Ia juga berharap peserta menerapkan ilmu pelatihan dalam pekerjaan sehari-hari. Menurutnya, kegiatan pengembangan kompetensi harus membawa perubahan nyata di lingkungan sekolah.
“Kami ingin guru semakin profesional menjalankan tugasnya. Tenaga TU harus semakin disiplin, teliti, dan responsif dalam melayani warga sekolah,” harapnya.
Pelatihan berlangsung pukul 10.00–15.00 WIB di ruang pertemuan SMA Negeri 3 Karimun. Delapan tenaga TU mengikuti kegiatan tersebut selama dua hari.
Sekolah menghadirkan Dr. Rica Irma Dhiyanti sebagai narasumber dan fasilitator. Ia merupakan mediator, konselor, trainer, dan coach dalam pengembangan sumber daya manusia pendidikan.
Selain itu, narasumber juga merupakan anggota Dewan Pendidikan Provinsi Kepulauan Riau periode 2024–2029 yang dilantik pada 5 Januari 2024 lalu.
“Pelatihan ini menekankan pentingnya layanan administrasi yang akurat, cepat, ramah, dan tuntas. Tenaga TU didorong bekerja secara profesional,” ujar Rica Irma Dhiyanti dalam paparannya.
Pada hari pertama Senin (12/10/2026), peserta mempelajari etos kerja dan peran strategis tenaga TU. Materi tersebut menekankan kontribusi administrasi dalam mendukung kelancaran kegiatan sekolah.
Peserta mempelajari delapan nilai etos kerja. Nilai tersebut meliputi rahmat, amanah, panggilan, aktualisasi, ibadah, seni, kehormatan, dan pelayanan.
Setiap nilai diterjemahkan ke dalam tindakan sehari-hari. Peserta diajak menjaga kepercayaan, meningkatkan keterampilan, bekerja dengan jujur, dan memberikan solusi kepada warga sekolah.
Pelatihan juga membahas ketelitian administrasi dan komunikasi layanan. Peserta berlatih menyampaikan informasi secara jelas serta memastikan setiap permintaan memiliki tindak lanjut.
“Materi manajemen waktu menjadi perhatian serius, peserta harus belajar menentukan prioritas, mengatur tenggat, dan mencatat pekerjaan yang belum selesai,” jelas Rica.
Dalam sesi praktik, peserta membahas permintaan surat mendesak dengan persyaratan yang belum lengkap. Mereka menyusun langkah penyelesaian tanpa melanggar prosedur sekolah.

Pelatihan hari kedua, Selasa (13/10/2026), berfokus pada pelayanan prima. Peserta mempelajari cara memberikan layanan yang tepat, aman, ramah, dan dapat dipertanggungjawabkan.
Rica memperkenalkan prinsip 5T dalam pelayanan. Prinsip tersebut meliputi tepat informasi, tepat proses, tepat waktu, terjaga datanya, dan tulus melayani.
Peserta juga berlatih menangani keluhan orang tua siswa. Mereka mempraktikkan empat langkah, yaitu mendengarkan keluhan, menelusuri masalah, menawarkan solusi, dan memastikan tindak lanjut.
Simulasi menggunakan kasus keterlambatan penyelesaian surat. Peserta berlatih menghadapi pemohon dengan tenang.
Mereka juga belajar menyampaikan estimasi waktu yang realistis tanpa memberikan janji yang belum pasti. Perlindungan data siswa menjadi materi berikutnya.
Peserta mempelajari pentingnya membatasi akses dokumen, memverifikasi identitas penerima, dan menggunakan saluran komunikasi resmi sekolah.
Dalam lokakarya kelompok, peserta menyusun rancangan perbaikan standar operasional prosedur (SOP) layanan TU.
Rancangan tersebut mencakup jenis layanan, penanggung jawab, persyaratan, estimasi waktu, alur kerja, dan bukti administrasi.
Pelatihan ini juga menghasilkan komitmen perubahan selama 30 hari. Peserta diharapkan menerapkan kebiasaan kerja yang lebih teratur dan meningkatkan kualitas layanan secara konsisten.
Pelaksanaan komitmen dapat dipantau melalui catatan waktu penyelesaian, koreksi dokumen, status pekerjaan, dan penanggung jawab layanan.
Indikator tersebut membantu sekolah menilai perkembangan layanan secara terukur. Melalui pelatihan ini, tenaga TU diharapkan semakin disiplin, teliti, dan komunikatif.
Layanan administrasi juga diharapkan lebih mudah dipahami oleh siswa, orang tua, dan guru. Profesionalisme tenaga TU tidak hanya diukur dari kecepatan bekerja.
Ketepatan informasi, keamanan data, kepatuhan terhadap prosedur, dan ketuntasan layanan menjadi bagian penting dalam membangun kepercayaan warga sekolah.

