Proses pembongkaran makam warga di Desa Lenggah Jaya, Kecamatan Cabangbungin, Kabupaten Bekasi, setelah perselisihan yang dipicu perbedaan dukungan dalam Pilkades. Jenazah kemudian dipindahkan ke makam keluarga setelah kedua pihak sepakat berdamai
BEKASI, KEPRI24JAM.COM – Persaingan politik di tingkat desa kembali menyisakan persoalan sosial.
Di Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, sebuah makam dibongkar dan jenazahnya dipindahkan.
Hal ini terjadi setelah konflik antarp warga yang dipicu perbedaan dukungan dalam pemilihan kepala desa (pilkades).
Peristiwa itu terjadi di Kampung Cap Jaya, RT 07 RW 03, Desa Lenggah Jaya, Kecamatan Cabangbungin, Minggu (25/10/2026).
Video pembongkaran makam tersebut beredar luas di media sosial.
Kapolsek Cabangbungin, AKP Alex Candra, membenarkan kejadian itu.
Ia mengatakan kedua pihak telah menyepakati pemindahan makam setelah menyelesaikan perselisihan.
“Benar, itu kejadiannya Minggu, 25 Oktober 2026,” kata AKP Alex, Rabu (28/10/2026), dikutip Detik.Com.
Alex menjelaskan, konflik tersebut melibatkan dua warga yang mendukung calon kepala desa berbeda.
Salah satu warga mendukung calon yang menang. Warga lainnya mendukung calon yang kalah sekaligus memiliki lahan tempat makam itu berada.
Perselisihan bermula dari ucapan yang dianggap menghina calon kepala desa yang didukung salah satu pihak.
Ucapan tersebut memicu ketersinggungan dan memperkeruh hubungan kedua warga.
“Awalnya itu karena dengar suara-suara terkait pilkades juga, ‘Nggak punya uang kok si C nyalon-nyalon’,” ujar Alex.
Perselisihan itu kemudian berujung pada permintaan pemindahan makam ayah salah satu warga.
Makam tersebut berada di lahan milik warga yang terlibat konflik.
Kedua pihak akhirnya menempuh mediasi. Mereka sepakat memindahkan jenazah ke makam keluarga.
“Karena ketersinggungan, akhirnya ditengahi dan diselesaikan. Akhirnya, pendukung yang menang ini memindahkan makamnya. Jadi, itu tanah makam pribadi dari pihak yang kalah,” jelas Alex.
Perangkat desa, Bhabinkamtibmas, dan Babinsa turut menyaksikan proses pembongkaran.
Alex memastikan proses tersebut berjalan aman dan lancar.
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa perbedaan pilihan politik dapat merusak hubungan antarwarga jika tidak disikapi dengan bijak.
Persaingan dalam pilkades semestinya berhenti setelah pemungutan suara selesai.
Bukan justru berkembang menjadi konflik yang menyentuh persoalan keluarga dan makam.
Demokrasi desa seharusnya memperkuat persaudaraan warga.
Jangan sampai perbedaan dukungan politik justru meninggalkan persoalan yang berkepanjangan di tengah masyarakat.

