Monumen Tugu Bahasa Nasional di Pulau Penyengat, Tanjungpinang
TANJUNGPINANG, KEPRI24JAM.COM – Rencana pembangunan museum dan monumen Tugu Bahasa Nasional di Pulau Penyengat, Tanjungpinang, Kepulauan Riau menuai sorotan.
Tokoh perjuangan pembentukan Provinsi Kepulauan Riau (Kepri), Huzrin Hood, mempertanyakan prioritas proyek tersebut.
Nilai proyek mencapai Rp101 miliar. Anggaran itu dialokasikan dalam proyek tahun jamak 2026-2027.
Huzrin meminta Pemerintah Provinsi Kepri kembali melihat kebutuhan masyarakat sebelum mengalokasikan anggaran besar untuk proyek monumental.
Menurut dia, pembangunan daerah harus lebih dahulu menyentuh kebutuhan dasar warga.
“Marilah kita konsentrasi kepada masyarakat. Perlu betul-betul kita perhatikan, karena masih banyak masyarakat yang tertinggal,” ujar Huzrin dalam dialog dengan RII Batam, 24 September 2026.
Huzrin menyampaikan pandangan itu saat refleksi 24 tahun Provinsi Kepri.
“Kalau kita benar-benar mendengar aspirasi mereka, Insya Allah masyarakat bisa semakin terangkat,” ujarnya.
Ia menilai keberhasilan pembangunan tidak cukup dilihat dari berdirinya bangunan fisik.
Pemerintah juga harus memperhatikan pendidikan, kesehatan, lapangan kerja, dan ekonomi masyarakat.
“Jangan sampai pembangunan hanya mengejar simbol. Kepentingan masyarakat harus tetap menjadi dasar dalam menentukan prioritas,” demikian pokok pandangan Huzrin dalam dialog tersebut.
Proyek Tugu Bahasa memiliki nilai total sekitar Rp101 miliar.
Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang dan Pertanahan Kepri menyebut proyek itu masuk program strategis tahun jamak.
Pemerintah mengalokasikan Rp30,8 miliar pada APBD 2026. Sisa anggaran Rp70,2 miliar dialokasikan pada 2027.
Pembangunan ditargetkan selesai pada 2027. Pemerintah Kepri memiliki alasan dalam pembangunan tersebut.
Gubernur Kepri Ansar Ahmad menyebut Tugu Bahasa berkaitan dengan sejarah Melayu dan perkembangan bahasa nasional.
Pemerintah juga menyiapkan konten sejarah dan budaya untuk melengkapi museum dan monumen tersebut.
Ansar mengatakan proyek itu tidak hanya diarahkan sebagai bangunan simbolik. Pemerintah ingin Pulau Penyengat semakin kuat sebagai kawasan sejarah dan wisata budaya.
Peletakan batu pertama dijadwalkan pada 24 September 2026. Momentum itu bertepatan dengan Hari Jadi ke-24 Provinsi Kepri.
Namun, Huzrin meminta pemerintah tetap mengutamakan kebutuhan masyarakat.
Ia menilai masih ada warga Kepri yang membutuhkan perhatian pembangunan.
Menurut Huzrin, pemerintah perlu mendengar aspirasi masyarakat sebelum menetapkan skala prioritas anggaran.
Persoalan itu juga berkaitan dengan kondisi anggaran daerah. Pemprov Kepri saat ini mengalokasikan anggaran besar untuk sejumlah sektor.
Salah satunya pembangunan poliklinik rawat jalan RSUD Raja Ahmad Tabib. Nilai proyek fasilitas kesehatan tersebut sekitar Rp110 miliar.
Pembangunan poliklinik dilakukan karena jumlah kunjungan pasien rumah sakit mencapai sekitar 600 orang setiap hari.
Huzrin menilai pembangunan Kepri harus kembali pada tujuan awal pembentukan provinsi.
Menurut dia, pembangunan harus menghasilkan manfaat langsung bagi masyarakat.
Terutama bagi warga yang masih tertinggal dan membutuhkan pelayanan dasar.
Pemprov Kepri sendiri menyatakan pemerataan pembangunan tetap menjadi agenda utama.
Gubernur Ansar menyebut konektivitas antarpulau, pemerataan pembangunan, dan penguatan ekonomi kerakyatan menjadi bagian penting pembangunan Kepri.
Sorotan terhadap Tugu Bahasa akhirnya tidak hanya menyangkut bangunan senilai Rp101 miliar.
Isu tersebut menyentuh persoalan yang lebih luas.
Yakni bagaimana pemerintah menentukan prioritas pembangunan di tengah kebutuhan masyarakat dan keterbatasan anggaran.
Huzrin berharap momentum 24 tahun Kepri menjadi ruang evaluasi. Ia meminta pembangunan tetap berorientasi pada peningkatan kesejahteraan masyarakat.

