Masjid Raya Sultan Riau di Pulau Penyengat, Tanjungpinang, menjadi salah satu peninggalan bersejarah yang merekam jejak perkembangan Islam dan peradaban Melayu di Kepulauan Riau
TANJUNGPINANG, KEPRI24JAM.COM – Perjalanan menuju Pulau Penyengat hanya memakan waktu sekitar 20 menit menggunakan perahu pompom dari Pelantar Tanjungpinang.
Dari perairan Selat Riau, wisatawan dapat melihat kubah kuning Masjid Raya Sultan Riau yang menonjol di antara pepohonan. Pulau kecil ini menyimpan jejak panjang peradaban Melayu.
Sejarahnya terekam dalam masjid, makam tokoh penting, bangunan adat, hingga manuskrip yang diwariskan lintas generasi.
Setibanya di dermaga, suasana tenang langsung terasa. Angin laut berembus di antara rumah warga.
Becak motor melintas di jalan-jalan sempit yang menghubungkan berbagai situs bersejarah.
Warga setempat pun menjalani aktivitas sehari-hari di tengah lingkungan yang masih kental dengan tradisi Melayu. Wisatawan dapat menjelajahi pulau menggunakan becak motor.
Dalam perjalanan sekitar tiga jam, pengunjung bisa mendatangi sejumlah tempat bersejarah dan mengenal kisah di baliknya.
Masjid Raya Sultan Riau menjadi salah satu tujuan utama wisatawan. Bangunan bercat kuning dan hijau itu berdiri sebagai penanda penting sejarah Islam di Pulau Penyengat.
Masjid ini mulai dibangun pada 1803. Bangunannya kemudian direnovasi pada 1832, saat Raja Abdurrahman menjabat sebagai Yang Dipertuan Muda Riau-Lingga VII.
Masyarakat mengenal masjid ini melalui kisah penggunaan putih telur sebagai campuran bahan perekat bangunan.
Konon, warga bergotong royong menyumbangkan telur untuk mendukung pembangunan masjid tersebut.
Di balik arsitekturnya, masjid ini menyimpan peninggalan yang berkaitan dengan tradisi keilmuan Melayu.
Salah satunya mushaf Al Qur’an tulisan tangan yang menjadi bagian dari sejarah perkembangan Islam di pulau itu.
Keberadaan peninggalan tersebut memperlihatkan bahwa Penyengat tidak hanya menjadi tempat ibadah.
Pulau ini juga berkembang sebagai pusat kegiatan keagamaan dan pembelajaran pada masa Kesultanan Riau-Lingga.
Dari masjid, perjalanan berlanjut menuju kompleks makam Raja Ali Haji. Pepohonan tua menaungi kawasan tersebut dan menghadirkan suasana teduh bagi para peziarah.
Raja Ali Haji bin Raja Haji Ahmad dikenal sebagai pujangga Melayu yang menulis Gurindam Dua Belas.
Pemikirannya turut memberi sumbangan penting bagi perkembangan bahasa Melayu yang kemudian menjadi salah satu fondasi bahasa Indonesia.
Karya-karyanya memperlihatkan bagaimana sastra menjadi sarana untuk menyampaikan nilai agama, etika, dan kehidupan bermasyarakat.
Warisan itu membuat nama Raja Ali Haji tetap dikenal hingga kini. Tak jauh dari kompleks makam tersebut, terdapat makam Engku Putri Raja Hamidah. Sosok ini memiliki peran penting dalam sejarah Kesultanan Riau-Lingga.

Sejarawan dan budayawan Provinsi Kepulauan Riau, Raja Malik bin Raja Hamzah, menjelaskan hubungan Pulau Penyengat dengan perjalanan sejarah kerajaan Melayu.
“Pulau Penyengat menjadi hadiah pernikahan Sultan Mahmud Syah kepada Engku Putri pada awal abad ke-19. Dari pulau kecil inilah kemudian berkembang pusat pemerintahan, kebudayaan, dan intelektual Melayu yang pengaruhnya menjangkau Asia Tenggara,” tutur Raja Malik, Sabtu (17/10/2026).
Sejarah tersebut menjadi pengingat bahwa perkembangan peradaban Melayu tidak hanya berlangsung melalui kekuasaan kerajaan.
Ilmu pengetahuan, sastra, agama, dan pemikiran para tokohnya juga berperan besar dalam membentuk identitas masyarakat.
Jejak kehidupan kesultanan dapat dilihat lebih jauh di Balai Adat Melayu. Bangunan panggung bercat kuning itu menghadap laut dan menyimpan berbagai koleksi yang berkaitan dengan adat serta sejarah kerajaan.
Foto para sultan menghiasi dinding bangunan. Perlengkapan adat dan koleksi sejarah turut memperkenalkan kehidupan masyarakat Melayu pada masa lampau.
Wisatawan juga dapat mengenakan busana adat untuk berfoto di Balairung Raja. Dari Balai Adat, pengunjung dapat melanjutkan perjalanan menuju Balai Maklumat Indera Sakti.
Tempat ini berkaitan dengan upaya pelestarian naskah dan pengetahuan Melayu.
Sejumlah manuskrip beraksara Arab-Melayu menyimpan catatan tentang agama, sastra, hukum, pemerintahan, dan kehidupan masyarakat.
Naskah-naskah tersebut menjadi sumber penting untuk memahami perkembangan pemikiran Melayu pada masa Kesultanan Riau-Lingga.
Tradisi keilmuan itu juga berkaitan dengan khutub khanah marhum Ahmadi, perpustakaan yang tumbuh pada masa kesultanan.
Keberadaannya memperlihatkan perhatian masyarakat Melayu terhadap kegiatan membaca, menulis, dan mengembangkan pengetahuan.

Warisan Pulau Penyengat tidak hanya tersimpan dalam bangunan tua. Pemikiran para ulama, pujangga, dan cendekiawan turut membentuk kekayaan intelektual yang jejaknya masih dapat ditelusuri melalui manuskrip dan karya sastra.
Termasuk sejarah Benteng Bukit Kursi. Lokasinya berada di kawasan perbukitan yang menawarkan pemandangan laut dari ketinggian.
Dari kawasan ini, wisatawan dapat melihat jalur pelayaran yang ramai dilalui kapal. Sejumlah meriam tua masih berdiri menghadap laut sebagai bagian dari peninggalan pertahanan kerajaan.
Benteng tersebut mengingatkan pengunjung pada posisi strategis Pulau Penyengat dalam sejarah Kesultanan Riau-Lingga.
Letaknya yang berhadapan dengan jalur pelayaran membuat kawasan ini memiliki nilai penting dalam pertahanan wilayah.
Pemandangan laut juga memperlihatkan hubungan erat masyarakat Penyengat dengan dunia maritim.
Laut bukan hanya bagian dari panorama pulau, melainkan juga ruang yang memengaruhi kehidupan, perdagangan, dan perjalanan sejarah masyarakatnya.
Selain bangunan kerajaan dan pertahanan, Pulau Penyengat memiliki sumur tua yang menyimpan cerita turun-temurun.
Lokasinya tidak jauh dari kawasan Balai Adat Melayu. Bentuk sumur ini sederhana. Bibirnya tersusun dari batu-batu lama yang menghitam dimakan usia.
Namun, keberadaannya masih menarik perhatian wisatawan. Raja Malik menjelaskan salah satu hal yang membuat sumur tersebut dikenal masyarakat.
“Keunikannya terletak pada airnya yang tetap tawar, meski hanya berjarak beberapa meter dari laut. Selama ratusan tahun, warga memanfaatkan sumur itu sebagai sumber kehidupan,” tutur Raja Malik.
Hingga kini, pengunjung datang untuk melihat sumur tersebut, mengambil air, atau sekadar mengabadikan momen.
Sebagian tertarik pada cerita yang berkembang di masyarakat. Sebagian lainnya ingin melihat langsung sumber air yang menjadi bagian dari sejarah kehidupan warga.
Kisah sumur tua ini memperlihatkan sisi lain Pulau Penyengat. Selain mewariskan bangunan dan karya intelektual, pulau ini juga menyimpan cerita tentang kehidupan sehari-hari masyarakat pada masa lampau.
Pengalaman menjelajahi Penyengat belum lengkap tanpa mencicipi kuliner setempat. Warung-warung sederhana menawarkan berbagai hidangan khas Melayu, termasuk olahan hasil laut.
Makanan menjadi bagian dari cara masyarakat menjaga tradisi. Resep dan cara pengolahan yang diwariskan dari generasi ke generasi turut memperkaya pengalaman wisatawan selama berada di pulau tersebut.
Di tengah aktivitas pariwisata, kehidupan warga tetap menjadi bagian penting dari daya tarik Penyengat.
Jalan-jalan sempit, rumah penduduk, suasana pesisir, dan sapaan warga menghadirkan pengalaman berbeda bagi pengunjung yang ingin mengenal budaya Melayu lebih dekat.
Upaya menjaga warisan Melayu juga berlangsung melalui berbagai kegiatan budaya. Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau bersama masyarakat menggelar Penyengat Heritage untuk memperkenalkan tradisi kepada wisatawan sekaligus generasi muda.
Festival ini menghadirkan pertunjukan seni, sastra, permainan rakyat, dan berbagai perlombaan budaya.
Kegiatan tersebut memberi ruang bagi masyarakat untuk mempertahankan tradisi sekaligus memperkenalkannya kepada khalayak yang lebih luas.
Dalam penyelenggaraan Penyengat Heritage 2026, Festival Gasing Internasional diikuti 40 peserta dari Malaka, Johor, Kuala Lumpur, Siak, Pelalawan, dan sejumlah daerah di Kepulauan Riau.
Lomba jong juga menarik perhatian dengan sekitar 200 peserta dari Singapura, Kuala Lumpur, Johor, Pelalawan, Moro, Tanjung Balai Karimun, Batam, dan daerah lainnya di Kepulauan Riau.
Sementara itu, lomba tari kreasi melibatkan 11 kelompok dengan sekitar 65 penari. Rangkaian kegiatan tersebut menunjukkan bahwa permainan tradisional dan seni pertunjukan masih memiliki tempat dalam kehidupan masyarakat.
Festival juga membuka kesempatan bagi generasi muda untuk mengenal budaya Melayu melalui pengalaman langsung.

Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Kepulauan Riau, Hasan, mengatakan permainan tradisional seperti canang, petak umpet, dan egrang dapat dikembangkan sebagai daya tarik wisata budaya.
Menurutnya, dukungan pemerintah daerah diperlukan agar pelestarian budaya Melayu dapat berjalan seiring dengan pengembangan pariwisata modern.
“Alhamdulillah, jumlah wisatawan yang datang ke Penyengat terus bertambah. Lewat ekspedisi PWI ini, kami berharap Penyengat semakin dikenal luas di dunia,” ujar Hasan.
Hasan juga memaparkan perkembangan kunjungan wisatawan ke Kepulauan Riau.
Sepanjang 2025, provinsi ini mencatat sekitar 2,027 juta kunjungan wisatawan mancanegara dan 4,3 juta perjalanan wisatawan nusantara.
Data yang disampaikan Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau juga mencatat sekitar 647 ribu kunjungan wisatawan mancanegara secara kumulatif hingga April 2026.
Angka tersebut merupakan capaian selama periode berjalan, bukan jumlah kunjungan khusus pada April saja. Data tersebut menggambarkan perkembangan pariwisata di tingkat provinsi.
Sementara itu, pelestarian sejarah dan budaya Pulau Penyengat menjadi salah satu upaya untuk memperkaya pengalaman wisatawan yang berkunjung ke Kepulauan Riau.

Daya tarik Pulau Penyengat juga menjangkau wisatawan mancanegara. Pada Sabtu (17/10/2026), Nicol dan putrinya, Marisol, yang berusia 20 tahun, mengunjungi pulau tersebut untuk pertama kalinya.
Keduanya berasal dari Jerman dan sebelumnya telah menjelajahi Pulau Bintan. Mereka tertarik datang setelah membaca informasi tentang Penyengat di internet dan melihat lokasinya melalui Google Maps.
“Saya melihat-lihat dari Google Maps dan penasaran. Akhirnya kami datang ke Pulau Penyengat karena rasa ingin tahu itu. Habis dari sini (Penyengat) kami ingin melanjutkan wisata ke Telaga Biru Bintan,” ujar Marisol.
Saat berada di sebuah kedai, Nicol dan Marisol bertemu dengan Gubernur Kepulauan Riau, Ansar Ahmad.
Ansar mengajak keduanya bergabung dan menyuguhkan otak-otak, kuliner khas Melayu berbahan dasar ikan.
“Ini makanan khas Melayu, otak-otak. Rasanya gurih dan lezat. Silakan dicoba,” ujar Ansar sambil membuka bungkus otak-otak berbalut daun dan menyuguhkannya kepada kedua wisatawan tersebut.
Nicol dan Marisol mencicipi makanan itu dan menyukai rasanya. Pengalaman tersebut menjadi kesempatan bagi keduanya untuk mengenal kuliner Melayu secara langsung.
Ansar juga memberikan dua selendang kepada kedua wisatawan itu. Selendang tersebut dimaksudkan untuk membantu mereka menyesuaikan pakaian dengan norma setempat sekaligus menjadi cendera mata dari kunjungan mereka.
Bagi Nicol dan Marisol, pertemuan tersebut menambah pengalaman selama menjelajahi Pulau Penyengat.
Mereka tidak hanya melihat tempat bersejarah, tetapi juga berinteraksi dengan masyarakat dan mencicipi makanan lokal.
“Ini pengalaman luar biasa dan tidak akan kami lupakan. Kami akan menceritakan pengalaman ini kepada teman-teman dan seluruh kenalan kami di Eropa maupun di Amerika,” ujar Marisol.
Pengalaman kedua wisatawan itu memperlihatkan bahwa daya tarik Penyengat tidak berhenti pada bangunan bersejarah.
Kuliner, keramahan masyarakat, dan tradisi yang masih terjaga turut membentuk kesan pengunjung.
Pada akhirnya, Pulau Penyengat menyimpan lebih dari sekadar peninggalan masa lalu.
Sejarah, manuskrip, tradisi, dan kehidupan masyarakat menjadi bagian dari warisan Melayu yang terus hidup.
Merawatnya berarti menjaga identitas budaya sekaligus membuka kesempatan bagi generasi berikutnya untuk mengenal perjalanan panjang peradaban Melayu.
Di Pulau Penyengat, masa lalu tidak sepenuhnya tinggal dalam catatan sejarah.
Ia hadir melalui masjid yang tetap berdiri, manuskrip yang menyimpan pemikiran para pujangga, tradisi yang diwariskan, dan keramahan warga yang menyambut setiap pengunjung.
Di tengah perubahan zaman, warisan itu menjadi pengingat bahwa kebesaran peradaban Melayu tidak hanya diukur dari apa yang pernah dicapai.
Melainkan juga dari bagaimana generasi hari ini merawatnya agar tetap hidup pada masa mendatang. (Candra P. Pusponegoro)

