Huzrin Hood (dua dari kiri) saat peluncuran buku biografi berjudul “Ketika Langkah Menjadi Sejarah: 70 Tahun Huzrin Hood” di Balai Adat Seri Indera Sakti, LAM Provinsi Kepri, Tanjungpinang, Jumat (30/10/2026) malam
TANJUNGPINANG, KEPRI24JAM.COM – Tujuh dekade perjalanan hidup Huzrin Hood kini terangkum dalam sebuah buku biografi.
Buku berjudul “Ketika Langkah Menjadi Sejarah: 70 Tahun Huzrin Hood” merekam jejak perjuangan tokoh tersebut dalam memperjuangkan dan membangun Provinsi Kepulauan Riau (Kepri).
Peluncuran buku berlangsung di Balai Adat Seri Indera Sakti, Lembaga Adat Melayu (LAM) Provinsi Kepri, Tanjungpinang, Jumat (30/10/2026) malam.
Kegiatan ini bertepatan dengan peringatan ulang tahun ke-70 Huzrin yang jatuh pada 27 Oktober 2026.
Buku terbitan The Hood Foundation tersebut mengangkat perjalanan hidup, pengabdian, dan kiprah Huzrin dalam sejarah pembangunan Kepri.
Ia merupakan salah satu tokoh penting dalam perjuangan pembentukan provinsi tersebut. Huzrin juga pernah menjabat sebagai Bupati Kepulauan Riau periode 2000–2003.
Dalam sambutannya, Huzrin mengaku terharu saat mengetahui perjalanan hidupnya akan dibukukan. Namun, ia juga merasa malu karena tidak menganggap dirinya sebagai sosok yang sempurna.
“Saya bukanlah manusia yang sempurna. Saya pernah benar, tetapi juga pernah salah. Pernah berdiri tegak, tetapi pernah pula jatuh dan harus bangkit kembali,” ungkap Huzrin.
Huzrin menegaskan, buku tersebut bukan untuk membangun pengagungan terhadap dirinya.
“Saya pernah mendapatkan pujian, tetapi tidak sedikit pula menerima kritik, cercaan, bahkan menghadapi berbagai ujian dan cobaan,” ujarnya lagi.
Ia ingin meninggalkan catatan tentang perjuangan seorang anak daerah dalam memberikan arti bagi tanah kelahiran dan masyarakatnya.
“Saya berharap buku ini justru dibaca sebagai catatan perjalanan seorang anak yang mencoba memberikan arti bagi hidupnya, bagi tanah kelahirannya, bagi masyarakatnya, dan bagi masa depan negeri yang dicintainya,” katanya.
Menurut Huzrin, judul buku tersebut mengandung pesan tentang arti sebuah perjuangan.
Langkah kecil yang dilakukan seseorang dapat menjadi bagian penting dalam perjalanan sejarah.
“Dalam perjalanan itu, saya belajar bahwa sejarah tidak selalu ditulis oleh mereka yang menang. Sejarah juga ditulis oleh mereka yang berani berdiri ketika keadaan mengharuskannya untuk berdiri,” tuturnya.
Buku ini juga menghadirkan kesaksian sejumlah tokoh nasional dan daerah.
Mereka antara lain mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) A.M. Hendropriyono, Ustaz Abdul Somad, mantan Danjen Kopassus Muchdi PR, dan Gubernur Kepri Ansar Ahmad.
Sejumlah tokoh lainnya turut memberikan testimoni. Mereka adalah Guru Besar Universitas Batam Soerya Respationo, mantan Gubernur Riau Saleh Djasit, dan mantan Gubernur Kepri Ismeth Abdullah serta Nurdin Basirun.
Pesan perjuangan Huzrin juga tertuang pada sampul belakang buku. Ia mengutip filosofi Melayu tentang keberanian menghadapi tantangan.
“Orang Melayu mengajarkan, ‘kalau takut dilambung ombak, jangan berumah di tepi pantai.’ Begitulah saya memandang perjuangan. Selama Allah masih memberi napas, langkah tidak boleh berhenti. Maju adalah pilihan, berbuat adalah kewajiban, dan berhenti berarti kehilangan makna kehidupan,” demikian pesan Huzrin.
Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Kepri, Herry Andrianto, mengapresiasi penerbitan buku tersebut.
Ia menilai karya ini memiliki nilai penting bagi pelestarian sejarah daerah.
Menurut Herry, buku itu bukan sekadar dokumentasi perjalanan hidup selama 70 tahun. Isinya juga merekam perjuangan dan proses pembentukan Provinsi Kepri.
“Dalam perspektif kebudayaan, perjalanan hidup dan perjuangan para tokoh daerah merupakan bagian dari memori kolektif yang perlu dijaga, didokumentasikan, dan diwariskan kepada generasi penerus,” ujarnya.
Ia menegaskan, sejarah harus diwariskan agar nilai perjuangan tidak hilang ditelan waktu.
“Merawat sejarah bukan sekadar mengenang masa lalu, melainkan menjaga nilai perjuangan agar tetap hidup dan menjadi inspirasi bagi masa depan,” katanya.
Anggota DPRD Kepri asal Tanjungpinang, Bobby Jayanto, juga menyampaikan apresiasi.
Ia menyebut buku tersebut sebagai dokumentasi penting atas pengabdian Huzrin kepada masyarakat dan daerah.
“Semoga buku ini tidak hanya menjadi catatan perjalanan hidup, tetapi juga menjadi sumber inspirasi dan motivasi bagi generasi penerus untuk terus berkarya, berjuang, serta memberikan pengabdian terbaik bagi daerah dan bangsa,” ujarnya.
Menutup refleksinya, Huzrin menyampaikan terima kasih kepada keluarga, sahabat, rekan seperjuangan, tokoh masyarakat, dan generasi muda.
Ia juga mengapresiasi seluruh pihak yang berkontribusi dalam perjalanan hidup serta penerbitan buku tersebut.
Peluncuran biografi ini turut dirangkaikan dengan perilisan album musik bertajuk “The Best of Huzrin Hood” album tersebut memuat 14 lagu.
Peluncuran buku dan album itu menjadi bagian dari peringatan 70 tahun perjalanan hidup Huzrin Hood.
Keduanya sekaligus merekam jejak seorang tokoh dalam perjalanan panjang Kepulauan Riau.

