Petugas kesehatan memindahkan jenazah Abineno Justine, seorang perempuan berusia 38 tahun yang meninggal akibat virus Ebola, ke dalam peti mati sebelum pemakamannya di Bunia, Kongo, Jumat, 4 September 2026 lalu (Foto AP | Dieudonne Dirole)
AFRIKA, KEPRI24JAM.COM – Nigeria mengonfirmasi kasus Ebola pada seorang perempuan yang tiba dari Uganda.
Otoritas kesehatan kini melacak 44 orang yang melakukan kontak dengan pasien tersebut.
Kasus ini menambah kekhawatiran terhadap penyebaran Ebola di Afrika.
Pemerintah Nigeria berupaya mencegah penularan lebih lanjut melalui pelacakan kontak dan penguatan pengawasan kesehatan.
Menteri Kesehatan Nigeria, Muhammad Pate, mengatakan petugas telah mengidentifikasi 44 orang yang berkontak dengan pasien itu.
Pemerintah juga berupaya menelusuri asal kontak tersebut. Langkah itu bertujuan membantu petugas mengendalikan penyebaran virus.
Otoritas kesehatan terus melakukan penelusuran untuk mengantisipasi munculnya kasus baru.
Berdasarkan laporan The Guardian pada 21 Oktober 2026, Nigeria menjadi negara terbaru yang melaporkan kasus Ebola di tengah penyebaran wabah di kawasan Afrika.
Direktur Jenderal Africa Centres for Disease Control and Prevention (Africa CDC), Dr. Jean Kaseya, memperingatkan seriusnya ancaman tersebut.
Melalui platform X, ia menyebut tingkat kematian Ebola dapat mendekati 50 persen dari kasus.
Penyebaran wabah ini menjadi perhatian karena jangkauan geografisnya yang luas. Wabah tersebut memengaruhi sejumlah negara di tiga kawasan Afrika.
Pusat Pengendalian Penyakit Nigeria kini memprioritaskan deteksi dini dan penanganan pasien.
Petugas memperkuat isolasi, rujukan medis, dan pemeriksaan laboratorium untuk mendeteksi virus.
Otoritas kesehatan juga meningkatkan pelacakan kontak.
Langkah lainnya mencakup pencegahan dan pengendalian infeksi serta komunikasi risiko kepada masyarakat.
Pemerintah Nigeria turut memperhatikan keselamatan tenaga kesehatan. Perlindungan petugas menjadi bagian penting dalam upaya menghadapi penyebaran Ebola.
Nigeria sebelumnya membentuk satuan tugas Ebola pada Juni 2026. Pembentukan satgas tersebut menyusul penyebaran wabah di Republik Demokratik Kongo pada pertengahan Mei.
Ancaman Ebola mengingatkan dunia pada wabah besar di Afrika Barat pada 2014–2016. Wabah tersebut menewaskan sekitar 11.000 orang.
Di tengah perkembangan wabah di Afrika, Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia (Kemlu RI) terus memantau kondisi warga negara Indonesia (WNI) di wilayah terdampak.
Kemlu memastikan belum menerima laporan WNI yang terjangkit Ebola di kawasan Afrika Timur dan Tengah.
Pemerintah memusatkan perhatian pada perkembangan situasi di Republik Kenya dan Republik Demokratik Kongo.
Direktur Perlindungan WNI Kemlu, Heni Hamidah, menyampaikan keterangan tersebut pada Kamis (22/10/2026).
Ia mengatakan pemerintah terus memantau perkembangan wabah melalui Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Nairobi.
“Kemlu memantau secara dekat melalui KBRI Nairobi dalam hal ini, khususnya memantau perkembangan situasi wabah Ebola yang menyebar di wilayah Republik Kenya maupun Republik Demokratik Kongo,” kata Heni dalam konferensi pers di Gedung Kemlu RI, Jakarta, Kamis (22/10/2026).
Heni menjelaskan bahwa perwakilan Indonesia terus mengikuti perkembangan situasi di wilayah tersebut.
Berdasarkan laporan terkini, belum ada WNI yang dilaporkan terjangkit atau terdampak wabah.
“Sampai saat ini masih belum terdapat laporan ada WNI yang terjangkit atau terdampak,” ujarnya.
Meski belum menerima laporan kasus pada WNI, Kemlu tidak mengendurkan pemantauan.
Pemerintah terus memperbarui informasi dan memperkuat koordinasi dengan otoritas kesehatan serta pemerintah setempat.
“Kita akan terus memantau dan berkoordinasi dengan otoritas setempat tentunya,” pungkas Heni.
Pemantauan tersebut dilakukan untuk mengantisipasi perkembangan wabah. Pemerintah juga berupaya memastikan keselamatan WNI yang berada di wilayah terdampak.
Situasi Ebola di Afrika masih memerlukan perhatian serius.
Pelacakan kontak, deteksi dini, pencegahan infeksi, dan koordinasi lintas negara menjadi bagian penting dalam upaya membatasi penyebaran virus.

