Flyer webinar Kemenag RI tentang pengelolaan narasi di media sosial untuk mencegah konflik dan merawat kerukunan umat beragama
JAKARTA, KEPRI24JAM.COM – Kerukunan antarumat beragama tidak cukup dijaga dengan menghindari pertikaian. Masyarakat juga perlu membangun komunikasi yang sehat dan menyebarkan pesan positif di ruang digital.
Pesan itu disampaikan Pelaksana Tugas Direktur Urusan Agama Islam dan Bina Syariah Kementerian Agama Republik Indonesia, Muchlis M. Hanafi, dalam webinar tentang pencegahan konflik keagamaan melalui media sosial, Jumat (6/11/2026).
Ia mengajak tokoh agama, penyuluh, pengurus masjid, dan pegiat media membiasakan tabayyun. Masyarakat juga diminta tidak mudah menyebarkan informasi yang belum terverifikasi.
“Di era digital, menjaga kerukunan bisa dilakukan dengan merawat narasi di ruang publik. Sebab, konflik hari ini sering dimulai dari kata-kata sebelum menjadi tindakan,” ujar Muchlis.
Menurutnya, media sosial memiliki pengaruh besar terhadap cara masyarakat memahami agama. Potongan video dan informasi tanpa konteks dapat memicu kesalahpahaman.
Situasi semakin rumit ketika pengguna hanya menerima informasi yang sejalan dengan pandangannya. Kondisi ini dapat memperkuat prasangka dan memperlebar perbedaan.
Muchlis mengingatkan pentingnya memeriksa kebenaran informasi sebelum membagikannya. Ia merujuk Surah Al-Hujurat ayat 6 dan Surah An-Nur ayat 15 sebagai landasan pentingnya tabayyun.
“Pesan sampai di layar lalu langsung diteruskan dan akal tidak sempat bekerja. Ayat ini juga menyebut kita menganggapnya ringan, padahal di sisi Allah itu perkara besar,” jelasnya.
Ia meminta penyuluh agama memasukkan literasi digital dalam pembinaan masyarakat. Materi tersebut dapat disampaikan melalui majelis taklim, khutbah, kegiatan remaja masjid, dan pelayanan di Kantor Urusan Agama (KUA).
Muchlis juga mendorong produksi konten yang memperlihatkan kerukunan. Kisah persahabatan lintas agama, kegiatan sosial, dan pengalaman mendamaikan masyarakat perlu lebih banyak disebarluaskan.
Ia menilai capaian Indeks Kerukunan Umat Beragama (IKUB) 2025 sebesar 77,89 patut diapresiasi. Angka tersebut menjadi yang tertinggi sejak pengukuran dimulai pada 2015.
Namun, dimensi kebersamaan masih mencatat nilai terendah, yakni 65,49. Karena itu, masyarakat perlu memperkuat interaksi dan membangun kedekatan dalam kehidupan sehari-hari.
“Kita sudah pandai menahan diri untuk tidak saling mengganggu, tetapi belum cukup pandai saling mendekat,” katanya.
Sementara itu, pendiri Islami.co dan mantan Direktur NU Online, Savic Ali, menyoroti penyebaran kebencian di ruang digital.
Ia menilai masyarakat sedang menghadapi tantangan besar akibat meningkatnya narasi permusuhan.
Savic juga mengingatkan fenomena post-truth. Dalam situasi ini, emosi dan keyakinan pribadi sering lebih dominan daripada fakta.
Ia menawarkan strategi memperbanyak konten positif di internet. Strategi tersebut mencakup peningkatan produksi konten, pemanfaatan berbagai platform, serta penguatan jaringan dan gerakan bersama.
Selain pencegahan, Muchlis meminta jajaran Kemenag merespons isu sensitif secara cepat. Klarifikasi harus disampaikan secara jelas dan berdasarkan informasi yang dapat dipercaya.
“Kalau klarifikasi kalah cepat dari hoaks, ruang itu akan diisi spekulasi,” tegasnya.
Jika konflik sudah terjadi, ia meminta semua pihak mengutamakan perdamaian. Pemulihan hubungan harus menjadi tujuan utama.
“Ketika gesekan sudah terjadi, tugas kita adalah mendamaikan, bukan memenangkan perdebatan,” ujarnya.
Muchlis menyebut KUA, masjid, dan penyuluh agama memiliki posisi strategis dalam menjaga kerukunan.
Mereka dapat menjadi sumber informasi tepercaya ketika muncul persoalan di tengah masyarakat.
Ia mencontohkan perbedaan penetapan awal Ramadan, hari raya, arah kiblat, serta pengelolaan rumah ibadah.
Persoalan tersebut membutuhkan komunikasi yang terbuka dan menenangkan. Webinar tersebut diselenggarakan Direktorat Urusan Agama Islam dan Bina Syariah. Kegiatan ini diikuti 846 peserta melalui Zoom Meeting.
Peserta terdiri atas penyuluh agama, penghulu, pengawas madrasah, dan masyarakat umum. Savic Ali hadir sebagai narasumber.
Diskusi dipandu Wahyu Qadri, penyuluh agama Islam dari Kecamatan Langsa Baro, Kota Langsa, Aceh.
Muchlis berharap kegiatan tersebut memperkuat kerja sama Kemenag, organisasi keagamaan, tokoh masyarakat, dan pegiat media. Kolaborasi diperlukan untuk mendeteksi potensi konflik sejak dini.
“Di media sosial, berkata baik berarti memproduksi narasi yang menyejukkan, dan diam berarti menahan jempol dari membagikan yang belum jelas. Keduanya adalah bentuk iman,” pungkasnya.

