Habib Alwi bin Abdurrahman Assegaf. Ceramahnya menjadi sorotan setelah potongan video yang beredar luas di media sosial menuai polemik
JAKARTA, KEPRI24JAM.COM – Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), Kyai Haji Muhammad Cholil Nafis, mengimbau umat Islam agar lebih selektif memilih penceramah.
Ia meminta masyarakat tidak lagi menghadiri maupun mengundang Habib Alwi bin Abdurrahman Assegaf setelah beredar video ceramah yang menuai kontroversi.
Imbauan itu disampaikan melalui akun X pribadinya, @cholilnafis, pada Minggu (18/10/2026).
Menurutnya, materi ceramah yang beredar tidak mencerminkan akhlak seorang dai dan berpotensi merusak citra dakwah Islam.
“Saudara-saudara, jangan undang lagi dan tak usah diikuti majelisnya orang model gini ya,” tulis K. H. Muhammad Cholil Nafis.
Ia menilai seorang penceramah harus menyampaikan dakwah yang santun, mendidik, dan menjaga martabat manusia.
Status maupun latar belakang seseorang, kata dia, tidak dapat dijadikan alasan untuk membenarkan isi ceramah yang dinilai menyimpang.
“Seperti ceramahnya asli ini. Begini ini mau apa pun statusnya tak layak menjadi penceramah. Bikin rusak agama dan manusia dengan ceramah model gini. Boro-boro menyebarkan Islam, malah ini yang merusak Islam,” tegas Cholil Nafis.
Pernyataan itu muncul setelah potongan video ceramah yang diduga disampaikan Habib Alwi bin Abdurrahman Assegaf beredar luas di media sosial.
Video tersebut memicu kritik dari berbagai kalangan. Dalam rekaman itu, penceramah lebih dulu membahas honor ceramah.
Ia mengaku memasang tarif paling rendah Rp75 juta. Pernyataan tersebut disambut tawa para jemaah.
Kontroversi kemudian muncul ketika ia melontarkan candaan tentang santriwati.
Ia meminta santri perempuan dihadirkan dengan alasan ingin mencari istri keempat.
“Keluarkan santri-santri perempuan. Santri laki-laki gue udah eneg. Perempuan, keluarin ane mau pilih. Mudah-mudahan ada santri perempuan yang mau saya jadiin istri keempat,” ucapnya dalam video yang beredar.
Video yang sama juga memuat ucapan yang dinilai merendahkan jemaah perempuan lanjut usia.
Ia menyebut kehadiran emak-emak berusia di atas 60 tahun mengganggu pandangannya saat berceramah sebelum mengatakan bahwa ucapannya hanya gurauan.
“Enggak ada pahalanya ceramah depan emak-emak, ngotor-ngotorin mata. Tapi kalau perawan seger. Maaf-maaf nih, ane begini, aye tukang becanda,” katanya.
Sejumlah warganet mengidentifikasi sosok dalam video tersebut sebagai Habib Alwi bin Abdurrahman Assegaf.
Hingga kini, potongan video itu masih menjadi perbincangan luas di media sosial.
Polemik tersebut kembali memunculkan pembahasan tentang etika berdakwah.
Banyak pihak menilai mimbar dakwah seharusnya menjadi ruang untuk menyampaikan ilmu, menebarkan akhlak, dan menjaga kehormatan setiap manusia, bukan sebaliknya.

