Wirlisman berfoto di depan booth Janabadra pada rangkaian kegiatan Ikabadra Fest 2026 di Yogyakarta. Momen ini menjadi bagian dari kunjungannya untuk bernostalgia sekaligus mempererat silaturahmi dengan keluarga besar alumni Universitas Janabadra
YOGYAKARTA, KEPRI24JAM.COM – Ada tempat yang tak pernah benar-benar hilang dari ingatan. Waktu boleh berlalu. Bangunan boleh berubah. Namun, kenangan tetap menemukan jalannya untuk pulang.
Begitulah yang dirasakan Wirlisman, S.H., Sp.N., saat kembali menginjakkan kaki di Yogyakarta pada Jumat, 9 Oktober 2026. Perjalanan dari Batam menuju kota pelajar itu bukan sekadar menghadiri reuni alumni Universitas Janabadra.
Ia sedang pulang ke tempat yang pernah membentuk mimpi dan masa depannya. Tiga puluh dua tahun sebelumnya, tepat pada 1994, Wirlisman datang ke Yogyakarta sebagai mahasiswa baru Fakultas Hukum Universitas Janabadra.
Ia datang dengan mimpi sederhana. Menyelesaikan kuliah dan bergelar sarjana hukum. Empat tahun kemudian, 1998, ia berhasil meraih gelar sarjana hukum sebelum melanjutkan pendidikan (S2) Magister Kenotariatan di Universitas Padjadjaran Bandung.
“Alhamdulillah saya menjadi Notaris dan Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT) di Batam karena pernah kuliah di Janabadra,” tutur Wirlisman mengawali kisahnya, Jumat (9/10/2026) malam.
Pesawat yang ditumpanginya lepas landas dari Bandara Hang Nadim Batam sekitar pukul 14.40 WIB. Menjelang pukul 17.00 WIB, roda pesawat menyentuh landasan Bandara Yogyakarta International Airport (YIA).
Senja mulai turun. Langit berubah keemasan. Kota yang pernah menjadi bagian penting dalam hidupnya kembali menyambut dengan cara yang sederhana. Usai makan malam, Wirlisman tidak memilih beristirahat.
Ia justru mengajak rekannya menuju kawasan Balerejo, tidak jauh dari kampus Janabadra. Tiga puluh dua tahun silam, kawasan itu menjadi tempat tinggalnya selama menempuh pendidikan di Fakultas Hukum.
“Saya ingin melihat tempat dulu saya ngekos. Sebuah rumah kos sederhana di Balerejo pernah menjadi saksi perjuangan meraih cita-cita. Saya ingin melihat kos saya zaman dulu,” ujarnya lirih.
Mobil berhenti di sebuah gang yang dahulu begitu akrab baginya. Wirlisman turun. Ia melangkah perlahan menyusuri jalan yang pernah dilaluinya setiap hari ketika menjadi mahasiswa. Pandangannya menyapu rumah-rumah di kanan dan kiri jalan.
Sebagian telah direnovasi dan berganti bentuk. Tanah kosong yang dipenuhi rumput kini berdiri bangunan baru. Perubahan itu membuatnya beberapa kali berhenti. Ia berusaha menyusun kembali kepingan-kepingan ingatan yang tersimpan selama 30 tahun.
Sesekali ia mencoba mengingat letak kamar kos yang pernah menjadi saksi perjuangannya menempuh pendidikan. Di kamar sederhana itulah ia belajar hingga larut malam, menyelesaikan tugas kuliah, dan berdiskusi tentang hukum.

Malam semakin larut. Namun, langkahnya belum berhenti. Ia kemudian menyapa beberapa warga yang masih berada di sekitar kawasan itu. Hanya saja, pertanyaan itu dianggap asing sama warga sekitar.
“Dulu di sini banyak mahasiswa Janabadra yang ngekos. Masih ada yang ingat, Pak?” tanya Wirlisman kepada warga.
Warga pun hanya menggeleng pelan. Tidak satu pun mengenal nama-nama yang disebut Wirlisman. Sebagian penghuni lama telah pindah. Sebagian lainnya telah meninggal dunia. Waktu perlahan menghapus banyak jejak.
Yang tersisa hanyalah kenangan di dalam ingatan mereka yang pernah menjalaninya. Saat itulah Wirlisman menyadari bahwa yang sedang ia cari bukan lagi sebuah rumah kos. Ia sedang mencari masa mudanya.
Di Balerejo, ia memang tidak lagi menemukan wajah-wajah lama. Ia juga tidak mendengar tawa teman-teman seperjuangan yang dahulu memenuhi teras kos hingga larut malam.
Keheningan malam justru menghidupkan kembali ingatan yang selama ini tersimpan rapi dalam benaknya. Malam di Balerejo akhirnya berlalu. Gang-gang kecil yang dipenuhi kenangan ditinggalkan. Ingatan tentang masa muda masih melekat di benak Wirlisman.
Keesokan paginya, Sabtu, 10 Oktober 2026, suasana Universitas Janabadra berubah ramai. Ribuan alumni dari berbagai angkatan memadati kampus dalam rangka IKABADRAFEST dan Grand Alumni Reunion 2026. Mereka datang dari berbagai daerah.
Ada yang menjadi pengusaha, akademisi, hakim, advokat, pejabat, hingga praktisi hukum. Mereka pulang untuk mempererat silaturahmi sekaligus memberi kembali kepada almamater yang pernah membentuk perjalanan hidup mereka.
Kurang dari dua belas jam setelah menyusuri Balerejo, Wirlisman kembali melangkahkan kaki ke kampus yang sama. Bedanya, ia tidak lagi membawa tas kuliah. Ia juga tidak lagi duduk di bangku mahasiswa.
Kali ini, ratusan mahasiswa justru menunggu kehadirannya di ruang Education Expo. Tiga puluh dua tahun lalu, ia datang sebagai mahasiswa baru yang penuh harapan. Kini, ia kembali sebagai alumni yang membawa pengalaman hidup.
Perjalanan panjang itu seolah berputar dan kembali ke titik awal. Bedanya, kini ia datang untuk berbagi. Education Expo menjadi ruang pertemuan antara mahasiswa dan para alumni. Di forum itu, pengalaman di dunia kerja dibagikan secara langsung.
Tidak ada jarak antara pembicara dan peserta. Yang hadir adalah dialog tentang pengalaman, tantangan, dan masa depan profesi hukum. Saat presentasi dimulai, ruangan mendadak hening.
Mahasiswa memusatkan perhatian ke arah narasumber. Wirlisman membuka pemaparannya dengan sebuah pesan sederhana. Bahkan sebelum mengisi kuliah, ia mengawali dan menutup ceramah dengan pantun edukasi.

//Pergi ke Tugu naik delman//Mampir sebentar membeli durian//Salam hangat Kampus Kebangsaan//Janabadra tempat menempa kepribadian//
//Beli batik di kota Yogyakarta//Elok dipandang serta diraba//Tuntut ilmu dengan penuh cinta//Di Universitas Janabadra//
//Buah mangga manis rasanya//Jatuh ke tanah diambil rupa//Junjung tinggi jiwa nasionalisme bangsa//Di Janabadra kita melangkah jaya//
//Pergi ke pasar membeli selendang//Pulang membawa kue perada//Jadi insan berakhlak dan cemerlang//Bersama Universitas Janabadra//
“Perjalanan seorang sarjana hukum tidak berhenti ketika menerima gelar, tetapi dimulai ketika ilmu yang diperoleh mampu memberikan manfaat bagi masyarakat, bangsa dan negara.”
Kalimat itu lahir dari pengalaman, bukan sekadar teori. Selama bertahun-tahun menjadi Notaris dan PPAT, Wirlisman menyaksikan bahwa setiap dokumen memiliki konsekuensi hukum. Setiap tanda tangan membawa tanggung jawab.
Di balik setiap berkas, selalu ada kepentingan dan harapan masyarakat yang harus dijaga dengan jujur. Ia mengingatkan mahasiswa agar tidak hanya mengejar nilai akademik. Penguasaan teori memang penting. Namun, dunia kerja menuntut lebih dari itu.
Seorang praktisi hukum harus mampu mendengar, memahami persoalan, menganalisis fakta dan harus berani mengambil keputusan yang benar. Setiap tindakan memiliki konsekuensi dan pengalaman akan membentuk keputusan.
Di dalam ruang Education Expo terasa hangat. Mahasiswa tidak hanya mendengarkan materi tentang profesi hukum. Mereka melihat langsung perjalanan seorang alumni yang pernah duduk di bangku kuliah yang sama dan melewati perjalanannya.
Di dalam ruangan itu, mahasiswa sebenarnya tidak hanya mendengarkan seorang narasumber. Mereka sedang menyaksikan perjalanan hidup seorang alumni yang sukses. Tiga puluh dua tahun lalu, Wirlisman pernah duduk di bangku yang sama.
Ia pernah menghadapi ujian dan pernah sesekali gelisah memikirkan biaya hidup. Ia juga pernah menyimpan harapan agar suatu hari dapat mengabdikan ilmunya kepada masyarakat. Kini, ia kembali ke kampus dengan cerita yang berbeda.
“Saya datang tidak untuk menunjukkan keberhasilan namun berbagi pengalaman. Keberhasilan tidak lahir secara instan karena dibangun melalui proses panjang, kerja keras, kejujuran, dan komitmen menjaga integritas,” tutur Wirlisman.
Wirlisman melayani setiap pertanyaan dengan sabar. Ia mendengarkan satu per satu. Sesekali ia tersenyum ketika melihat antusiasme para mahasiswa. Mungkin, ia sedang melihat dirinya sendiri.
Tiga puluh dua tahun lalu, ia juga pernah berdiri sebagai mahasiswa yang dipenuhi rasa ingin tahu. Ia pernah mencari jawaban tentang masa depan. Kini, giliran dirinya yang membagikan pengalaman kepada generasi berikutnya.

Baginya, itulah makna menjadi seorang alumni. Ilmu yang diperoleh di bangku kuliah tidak cukup disimpan untuk diri sendiri. Ilmu harus dibagikan. Pengalaman harus diwariskan.
Semangat itulah yang sejalan dengan tema besar “Dari Janabadra untuk Indonesia”. Tema itu mengajak setiap lulusan memberikan manfaat bagi masyarakat melalui ilmu, keahlian, dan pengabdian yang dimiliki.
Di sela kegiatan reuni, Ketua Panitia IKABADRAFEST 2026, Hersona Bangun, juga mengingatkan pentingnya kontribusi alumni terhadap almamater. Ia mengajak alumni untuk berkontribusi terhadap kampusnya.
“Ketika kita sudah menjadi alumni, maka berpikirlah apa yang bisa kita berikan kepada kampus kita, jangan berpikir apa yang bisa kita dapatkan dari kampus kita,” ujar Hersona Bangun saat membuka acara IKABADRAFEST 2026, Sabtu (10/10/2026).
Pesan itu seolah menjadi benang merah perjalanan Wirlisman. Ia kembali ke Janabadra Yogyakarta bukan untuk mengenang masa lalu semata. Melainkan pulang untuk menunaikan tanggung jawab sebagai alumni 1994.
Ia ingin pengalaman yang diperolehnya selama puluhan tahun menjadi bekal bagi mahasiswa yang sedang mempersiapkan langkah menuju masa depan. Usai berbagi pengalaman di ruang Education Expo, Wirlisman tidak langsung meninggalkan kampus.
Beberapa mahasiswa masih mengerumuninya. Mereka bergantian mengajukan pertanyaan. Ada yang ingin mengetahui profesi notaris. Ada yang bertanya tentang PPAT. Ada pula yang meminta saran untuk mempersiapkan diri memasuki dunia kerja.
Wirlisman melayani setiap pertanyaan dengan sabar. Ia tidak hanya menjawab persoalan hukum. Ia juga mendorong mahasiswa agar terus belajar, menjaga integritas, dan berani menghadapi perubahan zaman. Baginya, ilmu di ruang kuliah hanyalah bekal.
Pengalamanlah yang akan menyempurnakannya. Di luar ruang seminar, suasana IKABADRAFEST dan Grand Alumni Reunion 2026 berlangsung meriah. Alumni dari berbagai angkatan berkumpul, bertukar cerita, dan mengenang masa-masa lalu.
Esoknya, Minggu (11/10/2026), rangkaian hari kedua IKABADRAFEST 2026 kegiatan dipusatkan di kampus terpadu Universitas Janabadra (kampus Trini). Beragam agenda melibatkan alumni, mahasiswa, dosen, tenaga kependidikan, dan masyarakat.
Rangkaian kegiatan dimulai pukul 06.00 WIB dengan gowes bersama yang menjadi pembuka aktivitas olahraga pagi. Selanjutnya, peserta mengikuti registrasi dan persiapan olahraga sebelum senam zumba bersama yang melibatkan seluruh peserta.

Memasuki agenda utama, panitia menghadirkan berbagai kegiatan yang dapat diikuti masyarakat. Mulai dari mini soccer, pertandingan voli ekshibisi, bazar UMKM, career expo, pemeriksaan kesehatan gratis, dan konsultasi hukum gratis.
Sejumlah stan UMKM juga menampilkan beragam produk kreatif karya pelaku usaha. Sedangkan Career Expo menjadi wadah yang mempertemukan mahasiswa dan alumni dengan dunia kerja serta berbagai peluang pengembangan karier.
Di waktu yang sama, panitia membuka layanan pemeriksaan kesehatan gratis dan konsultasi hukum gratis sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat. Berbagai hadiah doorprize turut disiapkan untuk memeriahkan kegiatan.
Suasana semakin semarak dengan penampilan live band yang menghibur peserta sepanjang kegiatan. Berbagai permainan kebersamaan juga digelar untuk mempererat silaturahmi antara alumni, mahasiswa, dosen, dan tenaga kependidikan.
“Melalui kegiatan ini, IKABADRA tidak hanya mempererat hubungan antaralumni, tetapi juga menghadirkan manfaat bagi masyarakat melalui layanan kesehatan, konsultasi hukum gratis, pengembangan karier, dan pemberdayaan pelaku UMKM,” ujar Hersona Bangun.
Usai acara, kebersamaan para alumni berlanjut. Mereka meninggalkan kampus menuju sejumlah destinasi di Yogyakarta dan Jawa Tengah. Perjalanan itu menjadi ruang untuk kembali menyambung cerita yang sempat terputus oleh ruang dan waktu.
Wirlisman bersama sebagian rombongan kemudian meluncur ke Klaten, singgah di Rawa Jombor. Tawa para alumni kembali pecah. Mereka saling mengingat kisah semasa kuliah. Ada yang bercerita tentang ruang kelas. Ada yang mengenang dosen.
Ada yang tertawa mengingat kehidupan anak kos yang penuh keterbatasan, tetapi sarat kebersamaan. Di tengah suasana itu, Wirlisman beberapa kali terdiam. Pandangannya mengarah ke jalan-jalan yang kini jauh berbeda.
Waktu telah mengubah banyak hal. Namun, persahabatan yang tumbuh sejak di bangku kuliah tetap bertahan, bahkan setelah 32 tahun berlalu. Perjalanan reuni akhirnya mencapai penghujung.
Rombongan alumni meninggalkan Yogyakarta dengan membawa cerita masing-masing. Ada yang kembali bertemu sahabat lama. Ada yang menemukan kembali semangat yang pernah tumbuh di bangku kuliah.
Bagi Wirlisman, perjalanan itu meninggalkan makna yang lebih dalam. Selama dua hari berada di Yogyakarta, ia kembali mengunjungi tempat yang pernah menjadi bagian penting dalam hidupnya.
Ia bertemu sahabat-sahabat lama. Ia berbagi pengalaman dengan mahasiswa. Ia juga menyaksikan semangat yang tetap hidup di lingkungan kampus yang telah melahirkan banyak alumni dari berbagai profesi.
Perjumpaan itu mengingatkannya bahwa nilai sebuah kampus tidak hanya diukur dari gedung, ruang kuliah, atau fasilitas yang dimiliki. Nilai sebuah kampus tumbuh dari orang-orang yang pernah belajar di dalamnya.
Mereka datang sebagai mahasiswa dan pergi membawa ilmu. Lalu kembali dengan pengalaman untuk dibagikan kepada generasi berikutnya. Semangat itulah yang terasa sepanjang IKABADRAFEST dan Grand Alumni Reunion 2026.

Reuni tidak berhenti sebagai ajang melepas rindu. Kegiatan itu menjadi ruang untuk memperkuat jejaring, mempererat persaudaraan, dan membangun kepedulian terhadap almamater.
Menjelang kepulangan, Wirlisman memandangi kembali Universitas Janabadra. Di kampus itulah ia belajar memahami hukum dan ditempa untuk menghargai kejujuran, tanggung jawab, dan integritas.
Bekal itulah yang kemudian menyertainya selama menjalankan profesi sebagai Notaris dan PPAT. Pesawat yang membawanya kembali ke Batam perlahan meninggalkan Yogyakarta. Kota itu semakin jauh. Namun, ada pelajaran yang tetap melekat.
“Ilmu akan menemukan maknanya ketika dibagikan. Pengalaman akan bernilai ketika menjadi inspirasi. Seorang alumni akan selalu memiliki jalan untuk kembali, bukan sekadar mengenang masa lalu,” pesannya.

