Serangan rudal yang dikaitkan dengan kelompok Houthi terhadap Bandara Internasional King Khalid di Riyadh, Arab Saudi
RIYADH, KEPRI24JAM.COM – Gelombang serangan terhadap bandara di Arab Saudi memicu peringatan perjalanan dari sejumlah negara.
Australia, Selandia Baru, Amerika Serikat, Kanada, Inggris, Korea Selatan, dan Jepang meminta warganya menghindari perjalanan ke sejumlah wilayah di kerajaan tersebut.
Serangan rudal dan drone yang dikaitkan dengan kelompok Houthi juga mengganggu penerbangan internasional.
Dampaknya meluas hingga ke jemaah umrah asal Indonesia yang tertahan di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Makassar, Sulawesi Selatan, akibat pembatalan penerbangan menuju Arab Saudi.
Mengutip Al Jazeera, Senin (12/10/2026), pemerintah Australia meminta warganya tidak mendatangi Bandara Internasional King Khalid di Riyadh.
Pemerintah juga meminta masyarakat mempertimbangkan kembali rencana perjalanan ke bandara lain di Arab Saudi.
Menteri Luar Negeri Australia, Penny Wong, menegaskan pemerintahnya terus memantau perkembangan keamanan di kawasan tersebut.
“Saran perjalanan untuk Bandara Internasional King Khalid, Riyadh telah diperbarui menjadi ‘do not travel’ karena keamanan ini. Kami terus mengimbau warga Australia untuk mempertimbangkan lagi kebutuhan mereka ke Arab Saudi,” ujar Wong, dikutip dari The Australian.
Selandia Baru juga melarang warganya bepergian ke bandara utama Riyadh serta Provinsi Najran, Jazan, dan Asir.
Pemerintahnya turut meminta warga menghindari perjalanan yang tidak mendesak ke wilayah lain di Arab Saudi.
Kedutaan Besar Amerika Serikat di Riyadh mengeluarkan imbauan serupa pada Minggu. Pemerintah AS menyoroti ancaman serangan Iran dan kelompok Houthi yang didukung Teheran.
Kanada meminta warganya menunda perjalanan yang tidak mendesak ke seluruh wilayah Arab Saudi.
Korea Selatan bahkan menyarankan warganya meninggalkan negara tersebut apabila tidak memiliki urusan penting. Inggris juga meminta warganya menghindari perjalanan ke Jeddah dan Dammam.
Pengecualian berlaku untuk perjalanan mendesak serta penerbangan melalui Bandara Internasional Madinah sesuai imbauan yang dikeluarkan pemerintahnya.
Belasan Orang Tewas
Rangkaian serangan terhadap bandara Saudi terjadi dalam waktu kurang dari sepekan.
Serangan paling mematikan dilaporkan berlangsung pada Sabtu (10/10/2026) di Bandara Internasional King Khalid, Riyadh, Arab Saudi.
Otoritas penerbangan sipil Arab Saudi melaporkan 12 korban meninggal dunia dan lebih dari 300 orang mengalami luka-luka. Sejumlah korban dilaporkan berada dalam kondisi kritis.
Mengutip Associated Press (AP), Senin (12/10/2026), korban meninggal terdiri atas empat warga Arab Saudi, dua warga Bangladesh, serta masing-masing satu warga Palestina, Amerika Serikat, Mesir, Yordania, Suriah, dan Sudan.
Rudal dilaporkan menghantam area Terminal 3 dan Terminal 4 yang melayani penerbangan domestik.
Rekaman yang beredar di media sosial memperlihatkan kendaraan darurat berada di sekitar kompleks bandara setelah serangan.
Kelompok Houthi sebelumnya mengaku bertanggung jawab atas empat serangan terhadap bandara di Arab Saudi.
Namun, serangan pada Minggu belum diklaim oleh kelompok mana pun. Sejumlah Penerbangan Dibatalkan
Serangan tersebut memaksa otoritas menghentikan operasional sejumlah bandara.
Bandara Internasional King Khalid di Riyadh dan Bandara Internasional King Fahd di Dammam dilaporkan mengalami penutupan.
Gangguan juga meluas ke Bandara Internasional King Abdulaziz di Jeddah. Data Flightradar24 mencatat lebih dari 150 penerbangan dibatalkan dan 374 penerbangan mengalami keterlambatan di bandara tersebut pada Minggu (11/10/2026).
Sementara itu, hampir 80 persen penerbangan melalui Riyadh dilaporkan dibatalkan. Kondisi ini menjadikan bandara tersebut salah satu titik dengan gangguan penerbangan paling parah.
Sejumlah maskapai internasional turut menangguhkan penerbangan menuju dan dari Arab Saudi.
Maskapai tersebut meliputi Air India, FlyDubai, Lufthansa Group, dan Pakistan International Airlines.
“Kami memantau situasi ini dengan sangat cermat,” demikian pernyataan Air India.
Pembatalan penerbangan juga berdampak terhadap jemaah umrah asal Indonesia.
Sejumlah jemaah tertahan di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Makassar, setelah maskapai membatalkan penerbangan menuju Arab Saudi.
Kepala Kantor Wilayah Kementerian Haji dan Umrah Sulawesi Selatan, Ikbal Ismail, membenarkan kondisi tersebut.
“Iya betul (jemaah telantar), dampak dari eskalasi politik Saudi, penerbangan dibatalkan,” kata Ikbal, dikutip dari detikSulsel, Senin (12/10/2026).
Badan Keselamatan Penerbangan Uni Eropa (EASA) memperluas panduan keselamatan penerbangan di wilayah udara Arab Saudi.
Lembaga tersebut menyoroti kemampuan kelompok Houthi menjangkau wilayah yang lebih jauh, termasuk Riyadh.
EASA memperingatkan risiko serangan rudal dan drone terhadap infrastruktur penerbangan. Upaya pencegatan juga berpotensi meningkatkan risiko pesawat sipil salah diidentifikasi.
Analis penerbangan independen yang berbasis di Singapura, Brendan Sobie, menilai dampak krisis terhadap industri penerbangan belum dapat dipastikan.
Menurut Sobie, besarnya dampak bergantung pada durasi konflik, lamanya penutupan Bandara Riyadh, serta pembatasan penerbangan setelah operasional kembali dibuka.
Situasi keamanan tersebut kini menjadi perhatian industri penerbangan internasional.
Pemulihan jadwal penerbangan akan sangat bergantung pada perkembangan konflik dan keputusan otoritas penerbangan setempat.

